Posted on 27-03-2019 | Oleh : Febriarti Khairunnisa

Bintang Sejahtera, Mataram - Pemerintah Provinsi NTB terus mengkampayekan Program NTB Zero Waste 2023 berkoordinasi dengan seluruh OPD dan Pemerintah Kabupaten/Kota di NTB guna mendorong partisipasi seluruh pihak agar bijak mengelola sampah langsung dari sumbernya, yaitu rumah tangga, perkantoran, sekolah dan sarana-sarana umum lainnya. Hadir dalam acara ini utusan dari seluruh OPD Provinsi, Kabupaten dan Kota, LSM, Asosiasi Bank Sampah dan pihak swasta.

Provinsi NTB menghadapi permasalahan sampah yang serius dan berdampak negatif pada pengembangan ekonomi daerah, terutama di bidang pariwisata, pertanian, kelautan dan kemaritiman. Dari timbulan sampah NTB sebanyak 3.386 metrik ton per hari, hanya sekitar 20 % saja yang telah terangkut ke TPA, tanpa pengolahan apapun. Selebihnya sampah sejumlah 80% terus menggunung dan mengotori jalanan, sungai, hutan, gunung, pantai, laut dan tempat-tempat pariwisata kebanggaan NTB.

Dalam paparannya sebagai Keynote Speaker, Ibu Wakil Gubernur DR. Hj. Sitti Rohmi Djalilah menyampaikan pentingnya pengelolaan sampah terpadu yang tersistematis melibatkan seluruh lapisan masyarakat melalui Program Bank Sampah. Lebih lanjut beliau menekankan bahwa Pola Pikir (Mindset) tentang sampah harus diubah. Yang kita sebut SAMPAH adalah sebenarnya SUMBER DAYA sangat BERLIMPAH yang selama ini kita sia-siakan. Untuk itu mari kita bahu membahu saling bantu agar masalah sampah bisa diselesaikan langsung dari sumbernya. Sehingga rumah tangga bisa memanfaatkan sumber daya berupa sampah ini secara maksimal baik untuk pelestarian lingkungan maupun pengembangan ekonomi dan ketahanan keluarga. Ummi Rohmi, begitu beliau akrab dipanggil, juga mendorong Pemerintah Kabupaten/Kota hingga Pemerintah Desa untuk berkomitmen kuat memasukkan program bank sampah dalam anggaran belanja dalam 5 tahun ke depan, agar pengelolaan sampah bisa tercapai maksimal di seluruh desa, kecamatan, kabupaten dan kota di seluruh Provinsi NTB pada tahun 2023.

Lebih jauh dipaparkan dalam Seminar Nasional dan Lokakarya ini tentang Potensi Sikular Ekonomi Pengelolaan Sampah dari sudut pandang Industri Daur Ulang yang diwakili oleh Ibu Christine Halim, sebagai Ketua Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) bahwa ratusan juta ton sampah di Indonesia sejatinya dapat didaur ulang secara keseluruhan asalkan ada kemauan sungguh-sungguh dari semua pemangku kepentingan. Industri Daur Ulang Indonesia sejatinya sangat mampu menyerap seluruh sampah anorganik untuk kemudian diproses menjadi bahan baku dan bahan jadi. Bisnis daur ulang telah mampu mendatangkan devisa untuk Indonesia dalam jumlah yang cukup tinggi. Dampak ekonomi ini dapat terus ditingkatkan, apabila sampah di Indonesia terpilah dengan baik. Permasalahan utama yang dihadapi oleh Industri adalah sampah di Indonesia belum terpilah oleh masyarakat, karena kesadaran masyarakat tentang sampah masih sangat rendah. Ini menjadi tantangan kita bersama untuk terus mengkampanyekan kesadaran pengelolaan sampah di masyarakat.

Dalam acara ini, hadir juga Nara Sumber Utama dari Dirjen Pengelolaan Sampah, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI yang menyampaikan pentingnya upaya pengurangan timbulan sampah dan penanganan sampah dari tingkatan terkecil yaitu individu dan rumah tangga. Keberadaan Bank Sampah sejumlah 7.000 lebih dan ratusan Industri Daur Ulang se-Indonesia baru memberikan kontribusi penanganan sampah masing-masing sebesar 2% dan 15% dari total keseluruhan timbulan sampah di Indonesia setiap tahunnya. PEMILAHAN di Rumah Tangga dan sumber sampah lainnya WAJIB DILAKUKAN. Bila tidak, maka semua sampah akan membawa kerusakan dan bencana bagi negeri kita tercinta Indonesia. Dalam sesi tanya jawab, lebih lanjut dijelaskan tentang beberapa upaya yang digagas antar Kementerian LHK dan Kementerian PUPERA terkait pengelolaan sampah, dengan mensinergikan TPS3R dan Bank Sampah-Bank Sampah di Indonesia.

Sesi acara Seminar dan Lokakarya dilanjutkan dengan penyampaian alternatif Pengolahan Sampah TOSS (Teknologi Olah Sampah Setempat) dari STT PLN Bali yang mengupas cara pengolahan sampah menjadi energi terbarukan. Semua jenis sampah dapat diolah menjadi briket yang kalorinya sama dengan batubara muda yang dapat menghidupkan generator listrik tingkat desa.

Hadir juga sebagai Nara Sumber dari Balai Konservasi Kelautan dan Perairan Provinsi NTB yang memaparkan bahaya sampah plastik dalam ukuran sangat kecil yaitu MIKRO dan NANO PLASTIK, yang termakan oleh biota laut dan berujung terakumulasi di tubuh ikan yang sehari-hari kita makan. Akhirnya MANUSIA adalah TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH PLASTIK TERAKHIR dari siklus perjalanan sampah plastik.

Nah kita semua bisa bayangkan sendiri bukan, seberapa banyak nano plastik di tubuh kita yang mengakibatkan penyakit-penyakit DEGENERATIF dan menganggu SISTEM METABOLISME tubuh manusia sebagai Predator Teratas dari Piramida Makanan atau Pemangsa Terakhir dari Rantai makanan.


Bagikan Yuk